Apakah Pondok Pesantren Bentuk Feodalisme? Sebuah Telaah Sosio-Kultural dan Spiritual

Sorogan
Kyai dan Santri

Dalam beberapa tahun terakhir, muncul pandangan dari sebagian kalangan yang menilai bahwa sistem kepemimpinan di pondok pesantren merupakan bentuk lain dari feodalisme modern. Argumennya sederhana: kiai dianggap terlalu dominan, ditaati secara mutlak, bahkan seolah tidak boleh dikritik. Pertanyaannya: benarkah demikian? Apakah pesantren memang reproduksi dari struktur feodal dalam wajah keagamaan?

Feodalisme: Dari Struktur Kekuasaan ke Mentalitas Sosial

Secara historis, feodalisme adalah sistem politik Eropa abad pertengahan, di mana tuan tanah (bangsawan) memegang kekuasaan penuh atas rakyatnya. Rakyat harus tunduk, bekerja, dan membayar upeti demi perlindungan. Dalam konteks modern, feodalisme lebih dipahami sebagai mentalitas kekuasaan — ketika seseorang menuntut kepatuhan tanpa ruang kritik, menganggap dirinya paling benar, dan mengukur kehormatan dengan kedudukan, bukan ketakwaan.

Pesantren: Hierarki yang Berdiri di Atas Adab, Bukan Kekuasaan

Struktur pesantren memang mengenal hierarki — ada kiai, ustaz, santri senior, dan santri junior. Namun, hierarki ini bukan bentuk penindasan sosial, melainkan tatanan adab keilmuan. Santri menghormati kiai bukan karena status sosial, tapi karena meyakini bahwa ilmu tidak akan berkah tanpa adab. Sebagaimana pesan Imam Malik rahimahullah:

“تعلَّمتُ الأدبَ ثلاثين سنةً وتعلَّمتُ العلمَ عشرين سنةً”

“Aku belajar adab selama tiga puluh tahun, dan belajar ilmu selama dua puluh tahun.”

Inilah nilai utama yang membedakan antara feodalisme dan tradisi keilmuan Islam. Dalam feodalisme, ketaatan berakar dari kekuasaan; dalam pesantren, ketaatan berakar dari cinta dan adab.

Landasan Qur’ani Tentang Penghormatan kepada Ulama

Al-Qur’an sendiri menempatkan ulama sebagai pewaris ilmu dan pembawa cahaya bagi umat. Allah berfirman:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

“Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.” (QS. Fāṭir [35]: 28)

Ayat ini menunjukkan bahwa ulama dihormati bukan karena kekuasaan, tapi karena kedalaman takwanya. Maka, penghormatan santri kepada kiai bukanlah bentuk pengkultusan, melainkan ekspresi pengakuan terhadap nilai ilmu dan ketakwaan itu sendiri.

Ketika Adab Disalahpahami Sebagai Feodalisme

Pandangan sebagian orang yang menyebut pesantren feodal sering muncul karena kesalahpahaman terhadap konsep ta’dzim (penghormatan). Dalam pesantren, menundukkan kepala di depan guru bukan simbol penyerahan diri, tapi bentuk tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) dari kesombongan intelektual. Sayangnya, jika dimaknai secara dangkal, sikap itu terlihat seperti kepatuhan membabi buta. Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:

“لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يُوَقِّرْ كَبِيرَنَا وَيَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا حَقَّهُ”

“Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati yang lebih tua, tidak menyayangi yang muda, dan tidak mengenal hak ulama di antara kami.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)

Artinya, penghormatan kepada ulama adalah bagian dari adab Islam — selama tidak sampai menuhankan manusia atau menolak kebenaran yang lebih kuat.

Kiai: Pembimbing Ruhani, Bukan Penguasa Sosial
Ilustrasi kyai dan santri sedang mengaji

Kiai dalam tradisi pesantren adalah murabbi ruhani, pembimbing spiritual yang menuntun akal dan hati santri agar selaras dengan nilai ilahi. Ia menasihati, bukan menguasai; membimbing, bukan menundukkan. Sebagian kiai bahkan hidup sangat sederhana, tidur di bilik bambu, makan bersama santri, dan menolak segala kemewahan. Ini jelas bertolak belakang dengan karakter feodal lord yang hidup dari jerih rakyatnya. Namun, jika ada individu yang menyalahgunakan kharisma keulamaan untuk mencari kekuasaan duniawi, maka itu bukan cermin pesantren, melainkan penyimpangan dari nilai pesantren itu sendiri.

Keseimbangan: Antara Adab dan Rasionalitas

Islam tidak menolak berpikir kritis. Nabi ﷺ justru mendorong umatnya untuk menggunakan akal.

أَفَلَا تَعْقِلُونَ

“Tidakkah kalian berpikir?” (QS. Al-Baqarah [2]: 44)

Karenanya, pesantren yang sehat tidak akan menutup ruang dialog intelektual. Santri dididik untuk ta’dzim (beradab), tapi juga tafakkur (berpikir). Di sinilah pesantren menjaga keseimbangan antara ketaatan hati dan kebebasan akal.

Penutup: Pesantren Bukan Feodalisme, Tapi Sekolah Adab dan Kebijaksanaan

Menilai pesantren sebagai bentuk feodalisme adalah kekeliruan perspektif. Pesantren bukan sistem kekuasaan, tetapi sistem pembinaan manusia. Ia melahirkan generasi yang beradab, kritis, dan berjiwa sosial. Feodalisme memuliakan status. Pesantren memuliakan ilmu. Feodalisme menindas bawahannya. Pesantren mengangkat derajat santrinya. Feodalisme menumbuhkan ketakutan. Pesantren menumbuhkan cinta. Islam tidak mengenal feodalisme. Yang ada hanyalah penghormatan kepada ilmu dan orang berilmu. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ:

“من سلك طريقاً يلتمس فيه علماً سهّل الله له به طريقاً إلى الجنة.”

“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)

Maka, jika kita memahami pesantren dari jantungnya, bukan dari kulit luar, kita akan melihat bahwa pondok bukan menara kekuasaan, melainkan taman ilmu, adab, dan rahmat.

Tentang Penulis:
Gus Moen adalah alumni PP. Lirboyo Kediri tahun 2010 (Gerbang Lama), pemerhati pendidikan Islam dan sosial keagamaan. Aktif dalam kegiatan dakwah, literasi pesantren, dan pembinaan masyarakat.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan